Berikut adalah
beberapa sahabat di luar "10 Orang yang Dijamin Surga" beserta
alasannya dan referensi kitab syarahnya:
1. Khadijah binti Khuwailid (Jaminan Istana yang Tenang di Surga)
- Hadits: Diriwayatkan dari Abu Hurairah,
Malaikat Jibril mendatangi Nabi SAW dan berkata, "Wahai
Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa wadah berisi lauk pauk atau
makanan atau minuman. Jika ia datang, sampaikan salam dari Tuhannya dan
dariku, dan berilah ia kabar gembira berupa sebuah rumah di surga dari
mutiara yang berongga (Qashab), tidak ada kegaduhan di dalamnya dan tidak
ada rasa lelah." (HR. Bukhari No. 3820 dan Muslim No. 2432)
- Alasan Dijamin Surga: Pengorbanan total, ketenangan, dan
dukungan tanpa syarat yang ia berikan kepada dakwah Nabi di masa-masa
paling sulit.
- Referensi Syarah:
- Dalam Fathul Bari Syarh Shahih
Bukhari, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan rahasia mengapa
rumah Khadijah di surga disifati "tidak ada kegaduhan dan rasa
lelah". Ini adalah balasan yang setimpal (al-jazau min jinsil
'amal). Khadijah tidak pernah mengangkat suaranya kepada Nabi, tidak
pernah mendebat yang membuat lelah pikiran, dan selalu menciptakan
ketenangan di rumah saat Nabi menghadapi penolakan keras dari kaum
Quraisy.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh
Shahih Muslim juga menegaskan bahwa Qashab di sini bermakna
mutiara raksasa yang diukir menjadi istana yang sangat luas dan indah.
2. Tsabit bin Qais bin Syammas (Jaminan Surga karena Adab dan Rasa
Takut)
- Hadits: Ketika turun ayat "Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi
suara Nabi..." (QS. Al-Hujurat: 2), Tsabit bin Qais (yang
memiliki karakter suara bawaan yang keras) mengurung diri di rumah dan
menangis, mengira amalnya telah hapus dan ia termasuk ahli neraka. Nabi
SAW lalu mengutus sahabat untuk mencarinya. Setelah mengetahui alasannya,
Nabi SAW bersabda: "Engkau bukanlah termasuk ahli neraka, bahkan
engkau adalah penduduk surga. Engkau akan hidup terpuji, terbunuh sebagai
syahid, dan masuk surga." (HR. Muslim No. 119)
- Alasan Dijamin Surga: Rasa takut yang luar biasa kepada Allah
dan tingginya adab serta penghormatan kepada Rasulullah SAW.
- Referensi Syarah:
- Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam
An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah salah satu mukjizat kenabian yang
nyata. Apa yang disabdakan Nabi benar-benar terjadi. Tsabit bin Qais
hidup sebagai pahlawan Islam dan akhirnya gugur sebagai syahid dalam
Perang Yamamah (melawan Musailamah Al-Kadzab) di masa kekhalifahan Abu
Bakar. Kisah ini mengajarkan bahwa sensitivitas hati dan adab kepada
guru/pemimpin adalah jalan menuju surga.
3. Perempuan Hitam (Ummu Zufar) (Jaminan Surga karena Kesabaran atas
Penyakit)
- Hadits: Ibnu Abbas pernah berkata kepada Atha'
bin Abi Rabah, "Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita
penghuni surga?" Wanita itu pernah datang kepada Nabi SAW dan
berkata, "Saya menderita penyakit ayan (epilepsi) dan aurat saya
sering tersingkap (saat kumat). Doakanlah kesembuhan untuk saya."
Nabi SAW menjawab, "Jika engkau mau bersabar, bagimu surga. Namun
jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu."
Wanita itu menjawab, "Saya memilih bersabar, tetapi doakan agar
aurat saya tidak tersingkap." Maka Nabi mendoakannya. (HR.
Bukhari No. 5652 dan Muslim No. 2576)
- Alasan Dijamin Surga: Kesabaran tingkat tinggi dalam menerima
ketetapan Allah berupa ujian fisik (penyakit), dan mengutamakan akhirat
dibandingkan kenyamanan duniawi, serta tingginya rasa malu menjaga aurat.
- Referensi Syarah:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari mengambil kesimpulan fikih dan tauhid yang mendalam dari hadits
ini. Beliau menyatakan bahwa bersabar menanggung penderitaan di dunia
demi mengharap pahala akhirat lebih utama daripada mengambil rukhsah
(keringanan) untuk terbebas darinya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa
Allah memberikan kebebasan memilih bagi hamba-Nya yang sedang diuji, dan
keputusan wanita tersebut menahan sakit demi surga adalah puncak dari
ketangguhan mental seorang mukminah.
4. Bilal bin Rabah (Jaminan Surga karena Istiqamah Menjaga Kesucian)
·
Hadits: Pada waktu shalat Subuh, Rasulullah SAW
bertanya kepada Bilal, "Wahai
Bilal, ceritakan kepadaku amal apa yang paling engkau harapkan dalam Islam,
karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu (sandalmu) di hadapanku di
dalam surga." Bilal menjawab, "Tidaklah aku mengamalkan suatu amalan yang paling
aku harapkan selain bahwa tidaklah aku bersuci (wudhu) pada waktu malam atau
siang, melainkan aku shalat dengan wudhu tersebut (shalat sunnah wudhu)
sebanyak yang ditetapkan untukku." (HR. Bukhari No. 1149 dan Muslim No. 2458)
·
Alasan Dijamin Surga: Konsistensi (istiqamah) dalam
amalan yang tampaknya sederhana namun berat dilakukan secara terus-menerus:
selalu menjaga wudhu (batal lalu wudhu lagi) dan langsung mendirikannya dengan
shalat sunnah dua rakaat.
·
Referensi Syarah: * Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani
dalam Fathul Bari
menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil keutamaan shalat sunnah mutlak
setelah wudhu. Amalan Bilal ini menunjukkan bahwa kedudukan tinggi di surga
tidak selalu diraih dengan amalan yang besar di mata manusia (seperti memimpin
pasukan tempur), melainkan dari niat yang ikhlas dan kedisiplinan (dawam) dalam
merawat ibadah harian.
5. Ukasyah bin Mihshan (Jaminan Surga Tanpa Hisab dan
Tanpa Azab)
·
Hadits: Rasulullah SAW menyebutkan akan ada 70.000
orang dari umatnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Mereka adalah
orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan thiyarah (merasa sial
karena tanda-tanda tertentu), tidak menggunakan pengobatan kay (besi panas), dan
hanya bertawakal kepada Tuhan mereka. Mendengar itu, Ukasyah bin Mihshan
berdiri dan berkata, "Wahai
Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka."
Nabi SAW menjawab, "Engkau
termasuk golongan mereka." (HR. Bukhari No. 5705 dan Muslim No. 220)
·
Alasan Dijamin Surga: Memiliki tingkat kepasrahan dan
ketergantungan hati yang sangat murni hanya kepada Allah (Tawakal tingkat
tinggi) dan inisiatif (mubadarah)
yang cepat dalam meraih kebaikan.
·
Referensi Syarah:
o Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Ukasyah
memiliki sifat-sifat kesempurnaan tauhid tersebut. Para ulama juga menyoroti
kecerdasan Ukasyah yang langsung mengambil kesempatan emas tanpa ragu. Ketika
sahabat lain ikut meminta didoakan setelah Ukasyah, Nabi SAW menutupnya dengan
kalimat mahsyur: "Ukasyah
telah mendahuluimu."
6. Haritsah bin Suraqah (Jaminan Surga Firdaus yang
Tertinggi)
·
Hadits: Haritsah gugur pada saat Perang Badar karena
terkena anak panah nyasar (bukan dalam duel langsung). Ibunya (Ar-Rabi' binti
An-Nadhr) datang kepada Nabi SAW sambil menangis dan berkata, "Wahai Rasulullah... jika
ia di surga aku akan bersabar, namun jika tidak, aku akan menangisinya
sejadi-jadinya." Nabi SAW bersabda, "Wahai ibu Haritsah, sesungguhnya di surga itu ada
banyak tingkatan, dan sesungguhnya putramu telah mendapatkan surga Firdaus yang
paling tinggi (Al-Firdaus Al-A'la)." (HR. Bukhari No. 2809)
·
Alasan Dijamin Surga: Gugur sebagai syahid dalam
pertempuran Badar, yang merupakan pertempuran penentu (Furqan) dalam sejarah
Islam.
·
Referensi Syarah:
o Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menerangkan hikmah besar dari kisah ini.
Meskipun Haritsah terbunuh oleh "anak panah nyasar" (bukan saat
sedang berhadapan langsung menebaskan pedang dengan musuh), niat dan
kehadirannya di medan Badar sudah cukup bagi Allah untuk mengangkatnya ke surga
tingkat tertinggi (Firdaus). Ini menegaskan bahwa Allah menilai niat dan
keikutsertaan dalam membela agama, bukan sekadar proses teknis bagaimana ia
gugur.
7. Abdullah bin Salam (Jaminan Surga karena Berpegang
Teguh pada Tali Islam)
·
Hadits: Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku tidak pernah
mendengar Nabi SAW berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa ia
termasuk penghuni surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam." (HR. Bukhari No. 3812 dan
Muslim No. 2483)
·
Alasan Dijamin Surga: Berpegang teguh pada Islam
hingga akhir hayat, yang diisyaratkan melalui mimpinya memegang Al-Urwah Al-Wutsqa (tali
buhul yang amat kuat).
·
Referensi Syarah:
o Dalam riwayat lanjutan di kitab Bukhari, diceritakan bahwa
Abdullah bin Salam (mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam) bermimpi berada di
sebuah taman yang indah, lalu ada tiang yang di puncaknya terdapat tali (Urwatul Wutsqa). Ia
diperintahkan memanjat dan memegang tali itu. Ketika diceritakan kepada Nabi
SAW, beliau menakwilkan: taman itu adalah Islam, tiang itu adalah tiang agama,
dan tali itu adalah tali yang kuat. Nabi bersabda, "Engkau akan terus
berada di atas agama Islam hingga engkau wafat." Ibnu Hajar dalam Fathul Bari
menjelaskan bahwa jaminan ini adalah mukjizat Nabi yang memastikan akhir husnul khatimah bagi
Abdullah bin Salam berkat keilmuan dan kejujurannya mencari kebenaran.
8. Keluarga Yasir (Ammar, Yasir, dan Sumayyah)
·
Hadits: Ketika Nabi SAW
melewati Yasir, Ammar (anaknya), dan Sumayyah (istrinya) yang sedang disiksa
dengan kejam oleh kaum musyrikin Quraisy di padang pasir yang panas, beliau
bersabda: "Bersabarlah
wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali yang dijanjikan untuk
kalian adalah surga." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dan disahihkan oleh
Imam Adz-Dzahabi)
·
Alasan Dijamin Surga:
Keteguhan aqidah (Tauhid) yang luar biasa meski harus mengorbankan nyawa.
Sumayyah binti Khayyat akhirnya gugur ditusuk tombak oleh Abu Jahal,
menjadikannya syuhada (orang yang mati syahid) pertama dalam sejarah Islam.
·
Referensi Syarah:
o Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah dan Siyar A'lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi,
diuraikan bahwa kisah ini menjadi standar tertinggi tentang kesabaran
mempertahankan keimanan saat tertindas (mustadhafin). Jaminan surga turun langsung karena
raga mereka boleh dihancurkan, tetapi iman di hati mereka tidak bergeser
sedikit pun.
9. Sa'ad bin Mu'adz (Jaminan Surga hingga Arsy Bergetar)
·
Hadits: Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Arsy
Tuhan Yang Maha Pengasih bergetar karena kematian Sa'ad bin Mu'adz." (HR. Bukhari No. 3803 dan
Muslim No. 2466)
·
Alasan Dijamin Surga: Totalitas perjuangan, kesetiaan,
dan keputusan-keputusan krusialnya dalam membela Islam dan Rasulullah SAW,
meskipun ia memeluk Islam hanya dalam kurun waktu sekitar 6 hingga 7 tahun
sebelum wafatnya akibat luka di Perang Khandaq.
·
Referensi Syarah:
o Dalam Syarh
Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan makna "Arsy bergetar".
Mayoritas ulama ahli tahqiq menafsirkan bahwa getaran tersebut adalah kiasan
dari kegembiraan
(istibsyar) para malaikat pemikul Arsy yang menyambut kedatangan ruh Sa'ad
bin Mu'adz yang sangat suci. Ini adalah bukti kedudukan agungnya di surga.
10. Ubay bin Ka'ab (Jaminan Surga karena Namanya
Disebut Langsung oleh Allah)
·
Hadits: Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi SAW
bersabda kepada Ubay bin Ka'ab, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk
membacakan (surah Al-Bayyinah) kepadamu." Ubay bertanya dengan
terkejut, "Apakah
Allah menyebut namaku kepadamu?" Nabi menjawab, "Ya, Allah menyebut
namamu." Mendengar itu, Ubay pun menangis haru. (HR. Bukhari No. 3809 dan
Muslim No. 799)
·
Alasan Dijamin Surga: Kecintaannya yang luar biasa,
ketekunan, dan keahliannya yang mendalam terhadap Al-Qur'an. Beliau adalah
salah satu rujukan utama dalam qira'at (bacaan) Al-Qur'an di kalangan sahabat.
·
Referensi Syarah:
o Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menerangkan bahwa penyebutan nama Ubay
secara spesifik oleh Allah di Mala'ul A'la (kumpulan para malaikat tingkat tinggi)
adalah puncak kehormatan (ghayatul fardl). Tangisan Ubay adalah tangisan
bahagia campur rasa takut (khasyyah) karena tidak menyangka Tuhan semesta alam
mengenali dan menyebut nama hamba-Nya yang kecil. Ini jaminan nyata akan
kemuliaannya di akhirat.
11. Abdullah bin Amr bin Haram / Ayah Sahabat Jabir
(Jaminan Surga dan Diajak Bicara Langsung oleh Allah)
·
Hadits: Jabir bin Abdullah bercerita bahwa setelah
ayahnya gugur, Nabi SAW bersabda kepadanya, "Wahai Jabir, maukah aku kabarkan kepadamu apa yang
Allah katakan kepada ayahmu? ... Tidaklah Allah berbicara kepada seseorang
melainkan dari balik hijab, namun Allah menghidupkan ayahmu dan berbicara
kepadanya secara langsung (berhadapan). Allah berfirman, 'Wahai hamba-Ku,
memohonlah kepada-Ku, niscaya Aku beri.' Ayahmu menjawab, 'Ya Rabb, hidupkan
aku kembali agar aku bisa terbunuh (gugur syahid) di jalan-Mu untuk kedua
kalinya.'..." (HR.
At-Tirmidzi No. 3010, Ibnu Majah No. 190. Dinilai Hasan Shahih oleh Al-Albani)
·
Alasan Dijamin Surga: Rela mengorbankan nyawa dan
gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud, serta memiliki kerinduan yang sangat
mendalam untuk terus berjuang di jalan Allah.
·
Referensi Syarah:
o Syaikh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Sunan At-Tirmidzi)
menjelaskan bahwa keistimewaan diajak bicara langsung tanpa perantara (kifah) adalah derajat
kenikmatan tertinggi bagi para syuhada. Jawaban Abdullah yang justru ingin
kembali mati syahid (padahal sudah merasakan nikmat surga) menunjukkan betapa
lezatnya balasan mati syahid di mata penghuni surga.
12. Pria Anshar yang Tidak Dikenal Namanya (Jaminan
Surga karena Amal Hati)
·
Hadits: Anas bin Malik bercerita, saat duduk bersama
Nabi SAW, beliau bersabda tiga hari berturut-turut: "Akan muncul kepada kalian sekarang seorang
laki-laki penghuni surga." Dan selama tiga hari itu, yang muncul
adalah pria Anshar yang sama (sambil menenteng sandalnya sehabis wudhu).
Sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash penasaran dan menginap di rumah pria itu
selama 3 malam untuk memata-matai ibadahnya. Ternyata ibadah malamnya biasa
saja. Ketika ditanya apa rahasianya, pria itu menjawab: "Amalku hanya yang engkau
lihat itu, hanya saja aku
tidak pernah menyimpan rasa dengki (hasad), dendam, atau iri hati kepada
seorang muslim pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya." (HR. Ahmad 3/166. Sanadnya
disahihkan sesuai syarat Bukhari-Muslim oleh para pentahqiq, termasuk Syaikh
Syu'aib Al-Arnauth)
·
Alasan Dijamin Surga: Manajemen hati (Tazkiyatun Nafs). Ia
memiliki hati yang salim
(bersih) dari penyakit batin terhadap sesama manusia.
·
Referensi Syarah:
o Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali sering mengutip substansi hadits
ini dalam risalah-risalahnya untuk menegaskan bahwa keselamatan di akhirat
sangat bergantung pada kebersihan hati (qalbun salim). Amalan batin (seperti memaafkan orang
sebelum tidur dan tidak dengki) jauh lebih berat timbangannya dan lebih cepat
mengantarkan ke surga dibandingkan amalan fisik/sunnah yang banyak tetapi
hatinya masih dipenuhi kebencian kepada sesama muslim.